Memasuki masa pensiun Hari Tua idealnya menjadi fase untuk beristirahat, namun bagi mayoritas penduduk lanjut usia atau pensiunan di Indonesia, ketahanan finansial di hari tua masih menjadi tantangan besar. Data Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS) BPS 2025 menunjukkan bahwa 48,56% lansia/pensiunan menjadikan keluarga sebagai sumber utama penghidupan di hari tua. Angka ini berbanding terbalik dengan jaminan pensiun resmi yang hanya dinikmati oleh 8,82% lansia, serta penghidupan dari hasil tabungan dan investasi yang tercatat paling rendah, yaitu hanya 1,13%. Selain itu, ada pula lansia-pensiunan yang tetap bekerja agar mampu membiayai hidupnya 37,72%, meneima jaminan sosial/bantuan sosial 2,42%, dan lainnya 1,35%.
Tingginya ketergantungan lansia-pensiunan pada keluarga ini dipicu oleh minimnya proteksi jaminan hari tua atau dana pensiun selama masa kerja produktif. Data Kementerian Keuangan mengungkapkan bahwa dari 144,6 juta tenaga kerja di Indonesia, hanya 16,32% atau 23,6 juta orang yang terdaftar dalam program pensiun wajib. Ketiadaan tabungan pensiun ini memaksa generasi muda yang bekerja memikul beban finansial ganda sebagai sandwich generation, yakni menanggung biaya hidup anak-anak sekaligus menopang orang tua mereka di usia lanjut.
Di sisi lain, desakan ekonomi memaksa 37,72% hingga lebih dari 50% lansia untuk tetap aktif bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lebih dari 84% pekerja lansia terserap di sektor informal, khususnya sektor pertanian dan perdagangan kecil, yang tidak mensyaratkan batasan usia maupun keterampilan formal. Ironisnya, kerja keras di usia senja tersebut sering kali tidak sebanding dengan pendapatan dan perlindungan yang diterima.
Laporan menunjukkan sekitar 20% pekerja lansia atau yang sudah pensiun harus bekerja ekstra keras melebihi 48 jam per minggu, namun rata-rata penghasilan yang diperoleh hanya berkisar Rp1,62 juta hingga Rp2,07 juta per bulan. Kondisi ini mempertegas pentingnya peningkatan kepesertaan jaminan pensiun dan kesiapan finansial sejak usia produktif agar ketergantungan ekonomi di masa tua dapat teratasi.
Kondisi yang dialami lansia atau pensiunan di Indonesia tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat pengeluaran harian yang memaksa untuk terus berpenghasilan, di samping akibat cakupan program pensiun formal yang masih rendah sehingga menjadikan keterikatan finansial antar-generasi (sandwich generation) tetap berlanjut. Anak dan keluarga masih menjadi penopang utama ekonomi lansia-pensiunan di masa tua.
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.