Doom Spending: Salah Gen Z atau Salah Sistem?

Belanja impulsif di tengah ketidakpastian ekonomi, atau yang sekarang populer disebut doom spending, sering dianggap sebagai bukti generasi muda tidak bisa mengelola uang. Setiap kali muncul keluhan soal mahalnya harga rumah atau susahnya menabung, jawaban yang paling sering muncul adalah tuduhan bahwa Gen Z terlalu boros untuk kopi kekinian, staycation dadakan, dan belanja online yang tak ada habisnya. Narasi ini memang mudah diterima karena sederhana, seolah masalah finansial murni soal karakter individu. Padahal keputusan finansial seseorang tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia selalu merupakan respons terhadap insentif dan risiko yang dihadapi, dan ketika insentif itu berubah, wajar kalau perilaku ikut berubah.

Dalam ilmu ekonomi perilaku, ada konsep bernama time discounting, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih menghargai kepuasan yang bisa dinikmati sekarang dibanding manfaat yang baru terasa bertahun-tahun kemudian. Semakin kecil keyakinan seseorang terhadap masa depannya, semakin besar pula kecenderungan itu. Ketika punya rumah, pensiun layak, atau karier stabil terasa nyaris mustahil dicapai, buat apa menahan diri hari ini demi tujuan yang belum tentu tercapai meski sudah berhemat bertahun-tahun? Data juga mendukung argumen ini, sebab harga properti di kota-kota besar Indonesia naik jauh lebih cepat dibanding kenaikan gaji dalam dua dekade terakhir. Kalau generasi orang tua dulu bisa mencicil rumah hanya dengan gaji tunggal dalam waktu yang wajar, generasi sekarang menabung sepuluh tahun pun belum tentu cukup untuk DP. Wajar saja kalau akhirnya banyak yang memilih menikmati uangnya sekarang lewat liburan atau hiburan, ketimbang menabung untuk tujuan yang terasa semakin jauh dari jangkauan.

Tentu ini bukan berarti doom spending sepenuhnya aman dan boleh dilakukan tanpa batas, karena kalau berlebihan tetap bisa menjerumuskan seseorang ke utang konsumtif, apalagi dengan kemudahan paylater dan pinjaman online yang ada di mana-mana. Tapi yang perlu digarisbawahi, doom spending sebaiknya dilihat sebagai gejala dari hilangnya kepercayaan terhadap masa depan ekonomi, bukan sekadar dosa moral individu yang bisa disembuhkan dengan nasihat “rajin menabung”. Selama akar masalahnya tidak disentuh, menyalahkan generasi muda hanya akan jadi solusi yang terasa mudah tapi tidak menyelesaikan apa-apa. Kebijakan yang lebih relevan seharusnya diarahkan pada perbaikan struktur ekonomi itu sendiri, seperti skema pembiayaan rumah yang benar-benar terjangkau, lapangan kerja formal yang lebih stabil, dan jaminan sosial yang inklusif bagi pekerja gig economy. Pada akhirnya, menyalahkan generasi yang memilih hidup untuk hari ini jauh lebih gampang ketimbang membenahi sistem yang membuat masa depan terasa begitu tidak pasti untuk diperjuangkan.

Tinggalkan Balasan