Di luar negeri, tren makanan sehat lagi booming banget. Singkong itu secara alami bebas gluten Gethuk Premium (gluten-free). Ini nilai jual yang mahal banget kalau kita kemas dengan benar. Kita sering bangga beli Macaron Prancis yang mahal atau Croissant yang antrenya mengular, tapi giliran lihat Gethuk di pasar tradisional, kita anggap itu makanan kuno dan murah (cuma Rp2.000-an). Padahal, potensi rasanya nggak kalah saing. Kenapa makanan tradisional kita susah go international? Jawabannya ada dua: kualitas yang gampang basi dan branding yang kurang aesthetic. Di sinilah peran kita sebagai mahasiswa untuk ngasih solusi lewat inovasi produk (premiumisasi) dan taktik marketing digital biar Gethuk bisa nongkrong di kafe-kafe Tokyo atau London.
Nah tapi, ada beberapa masalah yang memang bikin gethuk atau makanan – makanan tradisional kurang dilirik dunia bahkan anak – anak muda jaman sekarang. Karena berbasis singkong dan kelapa parut segar, gethuk tradisional hanya bertahan 1–2 hari sebelum basi, sehingga jangkauan pasarnya sangat terbatas (tidak bisa dikirim jauh). Gethuk juga sering dianggap sebagai jajanan pasar subuh berbiaya rendah (Rp2.000–Rp5.000) yang kurang memiliki gengsi sosial di mata generasi muda urban dan pasar internasional. Selain itu Proses pembuatan tradisional sering kali menghasilkan konsistensi rasa, tekstur, dan tingkat higienitas yang berbeda-beda di setiap pembuat dan banyak produsen gethuk lokal belum memanfaatkan pemasaran digital berbasis visual (visual storytelling) untuk menjangkau pasar kelas atas (high-end).
Untuk mengubah gethuk murah menjadi produk bernilai jual mahal, aspek – aspek di atas harus diubah. Buat ukuran sekali gigit (bite-sized) dengan varian modern. Misalnya: Gethuk isi cokelat lumer, gethuk rasa matcha lokal, atau gethuk dengan lapisan karamel gula aren. Dalam hal masalah keawetan, bisa menggunakan teknik pembekuan cepat (Flash Freezing) sehingga gethuk bisa dijual dalam bentuk Frozen Food yang bertahan berbulan-bulan tanpa pengawet kimia. Kelapa parut segar bisa diganti dengan taburan keju edam atau kacang kenari panggang untuk ekspor. Kemudian agar bisa menarik perhatian pembeli itu bisa dikemas dalam kotak karton tebal (hardbox) minimalis dengan warna-warna pastel atau eknik modern, lengkap dengan narasi filosofi gethuk dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Jangan sebut ini hanya sebagai “kue singkong”. Gunakan istilah internasional yang familiar di telinga pasar global seperti Gluten-Free Cassava Truffles atau Lava Cassava Bites.
Pada akhirnya, menaikkan kelas gethuk tradisional menjadi hidangan penutup premium bukan sekadar tentang mengubah singkong menjadi komoditas yang mahal. Ini adalah manifesto gerakan generasi muda dalam melakukan diplomasi budaya melalui rasa (cultural diplomacy through food). Melalui standardisasi kualitas produk yang higienis serta pemanfaatan strategi pemasaran digital yang estetik, kita tidak hanya sedang menyelamatkan warisan kuliner Nusantara dari ancaman kepunahan zaman, tetapi juga sedang meredefinisi ulang cara dunia memandang kuliner lokal Indonesia.