Doom Spending adalah aktivitas mengeluarkan dana secara masif, yang mungkin tidak disadari oleh mayoritas orang terutama mahasiswa gen-z yang terpapar oleh sosial media dan memiliki riwayat screentime yang masif. Fenomena ini terjadi karena didukung dengan adanya kemajuan teknologi, inovasi produk penjualan, serta trik marketing yang terus berkembang, serta kebutuhan dan keinginan masing-masing individu baik keinginan yang telah ditunggu sejak lama ataupun keinginan se-saat (lapar mata).
Mayoritas fenomena “Doom Spending” terjadi ketika mahasiswa sedang bersantai dengan membuka sosial media. Dan pada masa kini, peran sosial media tidak hanya berperan sebagai wadah hiburan/entertain, seperti yang biasanya di-isi dengan foto liburan, hobi, kuliner, hingga video lucu. Kini, sosial media juga menjadi wadah untuk mempromosikan produk penjualan dan mereka (penjual) memiliki ribuan cara brilian untuk menyajikan produk mereka, sehingga dapat membuat kesan bahwa produk mereka adalah yang terbaik, hal ini memicu menimbulkan pesan yang terbesit pada benak penonton sehingga penonton tersebut tanpa di-sadari mengucapkan, “sepertinya aku butuh ini”, “kayaknya barang ini bisa berguna nanti”, “Risol ini terlihat enak sekali, sulit untuk dilewatkan”. Rangkaian ini menjadi “bahan bakar” yang membuat penonton/mahasiswa mengeluarkan dana yang tidak direncanakan sebelumnya.
Hal ini tidak bisa dipungkiri karena sifat manusia yang ingin memuaskan keinginan dirinya meskipun hal tersebut kemungkinan sedikit menyimpang dari kebutuhan pokok. Akan tetapi, aktivitas pemenuhan keinginan untuk memuaskan diri sebenarnya adalah hal yang baik sebagaimana diri kita juga memerlukan kesenangan di tengah padatnya jadwal demi menjaga stabilitas emosional diri kita. Namun, sebagai mahasiswa perlu diperhatikan bahwa menjaga kestabilan keuangan adalah hal yang mutlak terlebih lagi untuk mahasiswa yang merantau jauh dari tanah kelahirannya.
Berikut adalah opini/saran dari saya sebagai penulis yang mungkin bisa diterapkan oleh anda sebagai mahasiwa/pembaca. Yang pertama, catat dana pemasukan. Yang kedua, periksa dan beli barang-barang harian/bulanan yang perlu di-restock. Yang ketiga, Budget-ing pengeluaran harian. Yang ke-empat, sisihkan dana untuk menabung sedari awal. Yang kelima, menjaga dana yang keluar, pastikan bahwa pembelian hal tersebut adalah hal yang memang diperlukan atau sudah direncanakan dengan matang.